PERENCANAAN STRATEGI BISNIS
PERENCANAAN STRATEGI
Kasus :
Suatu perusahaan IT Development & Services menjalankan 5 unit bisnis seperti
yang ditunjukkan dalam tabel. Dengan
mempergunakan model portfolio BCG, coba tentukan :
· Apakah perusahaan itu dalam kondisi sehat?
· Strategi apa yang perlu dipertimbangkan di masa yang akan datang?

Pendekatan BCG (Bolton Consultan Group)

Analisa Perencanaan Strategi BisnisUnit Bisnis Strategi dari IT Consulting and
Information System Development berada dalam posisi “Tanda Tanya”. Artinya unit
bisnis ini memiliki tingkat pertumbuhan yang tinggi, tetapi pangsa pasar yang
relatif rendah. Hal ini menandakan bahwa
mungkin unit bisnis yang dirintis awalnya mencoba untuk memasuki pasar yang
sudah ada, sehingga dibutuhkan dana yang cukup
besar untuk menopang seluruh aktifitas bisnis dari unit ini. Dengan dana yang
tersedia, dapat dimungkinkan bahwa unit bisnis
dipertahankan untuk dikembangkan ke arah yang lebih baik dan dapat menjadi
“Bintang” sebagai penguasa dalam pasar, tentunyadengan pertimbangan bahwa tingkat persaingan pasar yang masih belum terlalu
agresif.
Unit Bisnis Hardware & Peripheral berada di antara posisi “Tanda Tanya” dan
“Bintang”. Artinya bahwa unit bisnis ini
memiliki tingkat pertumbuhan pasar yang relati ftinggi serta pangsa pasar yang
relatif tinggi sehingga mendandakan bahwa
unit bisnis ini kemungkinan terbesarnya berada dalam posisi yang akan lebih baik
dengan tingkat persaingan yang lebih ketat
dan tingkat penjualan yang tinggi diharapkan unit bisnis ini akan menguasai
pasar dalam waktu yang dekat. Dengan inovasi
yang ada dan dana yang tersedia, unit bisnis ini akan bersaing ketat dengan
pesaing lain yang berjalan dalam unit bisnis
yang sama.
Unit Bisnis Network Installation Service berada di antara posisi “Penghasil
Uang” dan “Posisi Lemah”. Sebagai penghasil uang
kedua bagi perusahaan, unit bisnis ini harus meningkatkan service dan inovasi
yang lebih bagi setiap konsumen yang ada. Hal
ini sangat berkaitan dengan tingkat persaingan pasar yang cukup berimbang dan
tingkat penjualan yang tinggi namun dalam
tingkat pertumbuhan yang relatif lambat. Tetapi dengan dana yang ada, dapat di
katakan bahwa unit bisnis bisa berkembang
lebih baik dan menjadi penghasil uang yang utama bagi perusahaan ini.
Unit Bisnis Tool & Game Development berada di antara posisi “Penghasil Uang” dan
“Posisi Lemah”. Tidak dapat dipungkiri
bahwa game sangat disukai oleh setiap konsumen di muka bumi ini, tak heran bila
tingkat penjualan unit bisnis ini mengalami
lonjakan yang sangat tinggi di antara pesaing lain. Hal ini juga yang menjadikan
unit bisnis ini sebagai penghasil uang
terbesar bagi persahaan. Sehingga dana yang tersedia cukup untuk membantu unit
bisnis lain yang membutuhkan dana segar untuk
mengembangkan unit bisnis yang lain. Akan tetapi, dengan tingkat pertumbuhan
pasar yang relatif ambat, bila tidak di
antisipasi dengan baik, maka unit bisnis ini akan terperosot dalam posisi
“Lemah”. Unit bisnis ini diharapkan untuk berpikir
keras dalam meningkatkan inovasi terbaru seputar game dan tools development agar
terus menjadi penghasil uang bagi
perusahaan ini.
Unit Bisnis Software Utility Store berada di posisi “Lemah”. Suatu posisi yang
sangat rendah dibandingkan dengan unit bisnis
yang lain. Unit bisnis ini dapat dikatakan tidak bisa bersaing degan kompetitor
lain dalam mengembangkan usahanya. Selain
tingkat penjualan yang rendah, serta persainga yang cukup merata, dan juga
tingkat pertumbuhan pasar yang relatif lambat,
unit bisnis ini jauh dari kesan dalam kondisi yang sehat. Walaupun dapat
dimungkin untuk diberikan suntikan dana yang cukup
besar, serta memberikan layanan yang lebih baik, akan tetap sulit untuk
menyaingi penjulan dengan pesaing lainnya. Hal ini
mungkin akan membuat para petinggi bekerja extra keras dalam memikirkan solusi
yang lebih baik agar unit bisnis ini berjalan
sebagaimana mestinya. Maka dari itu, bila solusi yang terbik masih tidak dapat
ditemukan, akan lebih baik bila unit bisnis
ini dihilangkan saja karena dianggap tidak bisa bersaing dalam pasar dan tidak
dapat meningkatkan penjualan ke arah yang
lebih baik.KesimpulanSecara keseluruhan dapat dikatakan bahwa
perusahaan ini dalam kondisi yang sehat mengingat hampir kebanyakan unit bisnis
yang tersedia berada dalam posisi yang baik. Kendala yang ada adalah hampir
semua unit bisnis ini berada dalam dua posisi
yang dimungkinkan bila tidak diantisipasi secara baik dapat tergelincir ke dalam
posisi yang berada di bawahnya.
Suatu perusahaan IT Development & Services menjalankan 5 unit bisnis seperti
yang ditunjukkan dalam tabel. Dengan
mempergunakan model portfolio BCG, coba tentukan :
· Apakah perusahaan itu dalam kondisi sehat?
· Strategi apa yang perlu dipertimbangkan di masa yang akan datang?
Pendekatan BCG (Bolton Consultan Group)
Analisa Perencanaan Strategi BisnisUnit Bisnis Strategi dari IT Consulting and
Information System Development berada dalam posisi “Tanda Tanya”. Artinya unit
bisnis ini memiliki tingkat pertumbuhan yang tinggi, tetapi pangsa pasar yang
relatif rendah. Hal ini menandakan bahwa
mungkin unit bisnis yang dirintis awalnya mencoba untuk memasuki pasar yang
sudah ada, sehingga dibutuhkan dana yang cukup
besar untuk menopang seluruh aktifitas bisnis dari unit ini. Dengan dana yang
tersedia, dapat dimungkinkan bahwa unit bisnis
dipertahankan untuk dikembangkan ke arah yang lebih baik dan dapat menjadi
“Bintang” sebagai penguasa dalam pasar, tentunyadengan pertimbangan bahwa tingkat persaingan pasar yang masih belum terlalu
agresif.
Unit Bisnis Hardware & Peripheral berada di antara posisi “Tanda Tanya” dan
“Bintang”. Artinya bahwa unit bisnis ini
memiliki tingkat pertumbuhan pasar yang relati ftinggi serta pangsa pasar yang
relatif tinggi sehingga mendandakan bahwa
unit bisnis ini kemungkinan terbesarnya berada dalam posisi yang akan lebih baik
dengan tingkat persaingan yang lebih ketat
dan tingkat penjualan yang tinggi diharapkan unit bisnis ini akan menguasai
pasar dalam waktu yang dekat. Dengan inovasi
yang ada dan dana yang tersedia, unit bisnis ini akan bersaing ketat dengan
pesaing lain yang berjalan dalam unit bisnis
yang sama.
Unit Bisnis Network Installation Service berada di antara posisi “Penghasil
Uang” dan “Posisi Lemah”. Sebagai penghasil uang
kedua bagi perusahaan, unit bisnis ini harus meningkatkan service dan inovasi
yang lebih bagi setiap konsumen yang ada. Hal
ini sangat berkaitan dengan tingkat persaingan pasar yang cukup berimbang dan
tingkat penjualan yang tinggi namun dalam
tingkat pertumbuhan yang relatif lambat. Tetapi dengan dana yang ada, dapat di
katakan bahwa unit bisnis bisa berkembang
lebih baik dan menjadi penghasil uang yang utama bagi perusahaan ini.
Unit Bisnis Tool & Game Development berada di antara posisi “Penghasil Uang” dan
“Posisi Lemah”. Tidak dapat dipungkiri
bahwa game sangat disukai oleh setiap konsumen di muka bumi ini, tak heran bila
tingkat penjualan unit bisnis ini mengalami
lonjakan yang sangat tinggi di antara pesaing lain. Hal ini juga yang menjadikan
unit bisnis ini sebagai penghasil uang
terbesar bagi persahaan. Sehingga dana yang tersedia cukup untuk membantu unit
bisnis lain yang membutuhkan dana segar untuk
mengembangkan unit bisnis yang lain. Akan tetapi, dengan tingkat pertumbuhan
pasar yang relatif ambat, bila tidak di
antisipasi dengan baik, maka unit bisnis ini akan terperosot dalam posisi
“Lemah”. Unit bisnis ini diharapkan untuk berpikir
keras dalam meningkatkan inovasi terbaru seputar game dan tools development agar
terus menjadi penghasil uang bagi
perusahaan ini.
Unit Bisnis Software Utility Store berada di posisi “Lemah”. Suatu posisi yang
sangat rendah dibandingkan dengan unit bisnis
yang lain. Unit bisnis ini dapat dikatakan tidak bisa bersaing degan kompetitor
lain dalam mengembangkan usahanya. Selain
tingkat penjualan yang rendah, serta persainga yang cukup merata, dan juga
tingkat pertumbuhan pasar yang relatif lambat,
unit bisnis ini jauh dari kesan dalam kondisi yang sehat. Walaupun dapat
dimungkin untuk diberikan suntikan dana yang cukup
besar, serta memberikan layanan yang lebih baik, akan tetap sulit untuk
menyaingi penjulan dengan pesaing lainnya. Hal ini
mungkin akan membuat para petinggi bekerja extra keras dalam memikirkan solusi
yang lebih baik agar unit bisnis ini berjalan
sebagaimana mestinya. Maka dari itu, bila solusi yang terbik masih tidak dapat
ditemukan, akan lebih baik bila unit bisnis
ini dihilangkan saja karena dianggap tidak bisa bersaing dalam pasar dan tidak
dapat meningkatkan penjualan ke arah yang
lebih baik.KesimpulanSecara keseluruhan dapat dikatakan bahwa
perusahaan ini dalam kondisi yang sehat mengingat hampir kebanyakan unit bisnis
yang tersedia berada dalam posisi yang baik. Kendala yang ada adalah hampir
semua unit bisnis ini berada dalam dua posisi
yang dimungkinkan bila tidak diantisipasi secara baik dapat tergelincir ke dalam
posisi yang berada di bawahnya.
Perkembangan Teknologi Wireless untuk Bisnis Warnet
Semakin pesatnya persaingan dalam bisnis warnet dalam usahanya untuk menjaring konsumen sebanyak-banyaknya. Tempat usaha ini sangat berjasa dalam mengenalkan internet ke seluruh tanah air. Namun sayang, kini warnet banyak yang gulung tikar karena persaingan serta tak adanya inovasi dalam mengembangkan usahanya. Pengusaha warnet memang harus memikirkan inovasi atau fasilitas tambahan kalau mau bisnisnya tetap berjalan. Internet sudah menjadi sebuah kebutuhan yang utama bagi para konsumen dalam mencari kepuasan akan informasi. Dan sebagai akibat dari maraknya persaingan dalam bidang teknologi internet menciptakan suatu terobosan teknologi dalam bentuk yang tidak umum.
Ada berbagai macam jaringan akses intenet, terdiri dari jaringan kabel (wireline) dan nirkabel (wireless). Contoh jaringan kabel diantaranya kabel tembaga, kabel koaksial, atau serat optik, sedangkan jaringan nirkabel, misalnya menggunakan microwave(wireless) pada frekuensi 2,4 GHz yang banyak dipakai oleh warnet.
Frekuensi 2,4 GHz ini bersama frekuensi 5,8 GHz dan 24 GHz sebenarnya termasuk dalam band ISM untuk keperluan instrumentasi, ilmiah, dan kesehatan. Meskipun penggunaan frekuensi ISM ini untuk keperluan komersial masih menjadi perdebatan, kalangan warnet maupun sektor usaha lainnya lebih menyukai jenis akses nirkabel ini. Selain harga perangkatnya semakin murah, mereka merasa mandiri dan terbebas sama sekali dari operator telekomunikasi untuk membangun jaringan broadband. Tetapi, konsekuensinya bisa diduga, frekuensi 2,4 GHz menjadi crowded atau penuh sesak dan saling berinterferensi, sehingga koneksi yang diterimapun menjadi kurang optimal.
Pelaksanaannya yaitu dengan membuat beberapa titik akses (hotspot) di lokasi yang diinginkan dan strategis, sehingga pengguna akses internet dapat dengan mudah menggunakan koneksi internet. Selain biaya yang murah dan nyaman, pengguna internet tidak perlu mencari saluran telepon untuk dial up ke internet.
Teknologi ini di awali dari kampus ITB di Bandung, yang pada saat itu dimotori oleh Dr. Onno W. Purbo dengan tim CNRG-nya. Dengan hanya merakit PC sederhana dengan tambahan PCMCIA WaveLan dan Ethernet Card, serta antena luar sehingga dapat menjangkau sambungan jarak jauh. Satu standar dari IEEE, yaitu kumpulan para insinyur dari seluruh dunia (tepatnya dari Amerika) yang menelurkan standar 802.11 yaitu standar komunikasi jaringan dengan tanpa menggunakan kabel dan menggunakan frekuensi 2,4GHz. Pada saat itu, percobaan yang dilakukan dengan menggunakan card WaveLAN hanya dapat memindahkan data sebesar 2Mbps, sedang saat ini, standar yang banyak dipakai adalah 802.11B yang dapat memindahkan data sampai 11Mbps, dan tahun mendatang kemungkinan akan digantikan atau bergeser ke standar 802.11G yang dapat memindahkan data sampai 50Mbps.
Masalah yang timbul sekarang bagi para pengusaha warnet yaitu, anggaran dan daya beli yang masih tinggi sehingga menyebabkan para pengusaha IT benar-benar harus mengencangkan ikat pinggang, dan akhirnya menggunakan peralatan yang seirit mungkin. Saat ini yang terjadi adalah kebijakan pemerintah yang masih diperdebatkan oleh seluruh pihak. Aturan yang pasti akan frekuensi 2,4 GHz yang digunakan Amerika adalah frekuensi yang gratis untuk dipakai oleh berbagai kalangan. Sehingga para pengguna masih harus membayar fee atas frekuensi yang digunakan.
Semua kendala yang terjadi ini masih dibahas dengan cukup alot oleh para komunitas pengguna wireless yang tergabung dalam IndoWLI. Semoga saja peraturan yang keluar nantinya tidak akan mencekik leher para pengusaha warnet dalam mengembangkan bisnisnya menuju perekonomian yang lebih baik. Pada akhirnya, akan tercipta satu skema bisnis yang lebih terjamin untuk para pengusaha warnet yang menginginkan untuk lebih fokus terhadap bisnis yang telah dijalaninya ini.
DAFTAR PUSTAKA
http://www.bogor.net/inside.asp?edition=1&cat=40, 26 maret 2005, Teknologi Wireless, Bonet.
Ada berbagai macam jaringan akses intenet, terdiri dari jaringan kabel (wireline) dan nirkabel (wireless). Contoh jaringan kabel diantaranya kabel tembaga, kabel koaksial, atau serat optik, sedangkan jaringan nirkabel, misalnya menggunakan microwave(wireless) pada frekuensi 2,4 GHz yang banyak dipakai oleh warnet.
Frekuensi 2,4 GHz ini bersama frekuensi 5,8 GHz dan 24 GHz sebenarnya termasuk dalam band ISM untuk keperluan instrumentasi, ilmiah, dan kesehatan. Meskipun penggunaan frekuensi ISM ini untuk keperluan komersial masih menjadi perdebatan, kalangan warnet maupun sektor usaha lainnya lebih menyukai jenis akses nirkabel ini. Selain harga perangkatnya semakin murah, mereka merasa mandiri dan terbebas sama sekali dari operator telekomunikasi untuk membangun jaringan broadband. Tetapi, konsekuensinya bisa diduga, frekuensi 2,4 GHz menjadi crowded atau penuh sesak dan saling berinterferensi, sehingga koneksi yang diterimapun menjadi kurang optimal.
Pelaksanaannya yaitu dengan membuat beberapa titik akses (hotspot) di lokasi yang diinginkan dan strategis, sehingga pengguna akses internet dapat dengan mudah menggunakan koneksi internet. Selain biaya yang murah dan nyaman, pengguna internet tidak perlu mencari saluran telepon untuk dial up ke internet.
Teknologi ini di awali dari kampus ITB di Bandung, yang pada saat itu dimotori oleh Dr. Onno W. Purbo dengan tim CNRG-nya. Dengan hanya merakit PC sederhana dengan tambahan PCMCIA WaveLan dan Ethernet Card, serta antena luar sehingga dapat menjangkau sambungan jarak jauh. Satu standar dari IEEE, yaitu kumpulan para insinyur dari seluruh dunia (tepatnya dari Amerika) yang menelurkan standar 802.11 yaitu standar komunikasi jaringan dengan tanpa menggunakan kabel dan menggunakan frekuensi 2,4GHz. Pada saat itu, percobaan yang dilakukan dengan menggunakan card WaveLAN hanya dapat memindahkan data sebesar 2Mbps, sedang saat ini, standar yang banyak dipakai adalah 802.11B yang dapat memindahkan data sampai 11Mbps, dan tahun mendatang kemungkinan akan digantikan atau bergeser ke standar 802.11G yang dapat memindahkan data sampai 50Mbps.
Masalah yang timbul sekarang bagi para pengusaha warnet yaitu, anggaran dan daya beli yang masih tinggi sehingga menyebabkan para pengusaha IT benar-benar harus mengencangkan ikat pinggang, dan akhirnya menggunakan peralatan yang seirit mungkin. Saat ini yang terjadi adalah kebijakan pemerintah yang masih diperdebatkan oleh seluruh pihak. Aturan yang pasti akan frekuensi 2,4 GHz yang digunakan Amerika adalah frekuensi yang gratis untuk dipakai oleh berbagai kalangan. Sehingga para pengguna masih harus membayar fee atas frekuensi yang digunakan.
Semua kendala yang terjadi ini masih dibahas dengan cukup alot oleh para komunitas pengguna wireless yang tergabung dalam IndoWLI. Semoga saja peraturan yang keluar nantinya tidak akan mencekik leher para pengusaha warnet dalam mengembangkan bisnisnya menuju perekonomian yang lebih baik. Pada akhirnya, akan tercipta satu skema bisnis yang lebih terjamin untuk para pengusaha warnet yang menginginkan untuk lebih fokus terhadap bisnis yang telah dijalaninya ini.
DAFTAR PUSTAKA
http://www.bogor.net/inside.asp?edition=1&cat=40, 26 maret 2005, Teknologi Wireless, Bonet.
SEMINAR SEHARI “INDONESIA .NET DEVELOPER COMMUNITY (INDC) UPDATE”
Melihat perkembangan teknologi saat ini, banyak hal yang sangat dibutuhkan bagi para developer. Seminar sehari bertajuk “Indonesia .Net Developer Community (INDC) Update” yang diselenggarakan oleh STIKOM Binaniaga Bogor pada hari Sabtu, 12 Maret 2005 mengungkap banyak bahasan yang menarik untuk diikuti. Materi yang dikupas antara lain pengenalan terhadap .Net, pengenalan terhadap Mobile .Net, dan Pattern & Practices. Event ini terlaksana atas kerja sama MUGI (www.mugi.or.id) dan INDC (www.netindonesia.net). INDC Leader yang menjadi speaker di event tersebut sangat antusias dibantu oleh tim MUGI. Mas Agus dan Mas Dondy, Mas Kodarsyah, Mas Nono, dan semua yang mendukung acara tersebut.
Indonesian .NET Developer Community (INDC) adalah komunitas user group pengembang software berbasis .NET platform, organisasi non-profit dan independen yang terdaftar sebagai anggota INETA (www.ineta.org). INDC merupakan sebuah sarana untuk bertukar informasi secara aktif yang membantu anggota lainnya untuk mamahami lebih seputar teknologi .Net.
Pada saat acara berlangsung, penonton yang umumnya masih awan dengan teknologi .Net mulai diperkenalkan secara umum mengenai .Net Framework. Satu-persatu bahasan yang diberikan kepada penonton sampai sesi yang terakhir. Penonton yang hadir sangat antusias untuk lebih mengetahui lebih dalam mengenai .Net Framework. Diselingi dengan quiz dan tanya jawab, acara yang dimulai pada pukul 08.00 pagi itu semakin ramai diminati oleh penonton yang hadir pada saat itu.
Pada saat acara berakhir, setiap penonton yang hadir mendapatkan bingkisan berupa tas dengan bordir tulisan Microsoft.Net yang diberikan secara cuma-cuma. Acara ini akan terus dilaksanakan mengingat panitia .Net sendiri memiliki jadwal sendiri untuk lebih mengenalkan .Net Framework kepada seluruh developer yang berada di Indonesia.
Indonesian .NET Developer Community (INDC) adalah komunitas user group pengembang software berbasis .NET platform, organisasi non-profit dan independen yang terdaftar sebagai anggota INETA (www.ineta.org). INDC merupakan sebuah sarana untuk bertukar informasi secara aktif yang membantu anggota lainnya untuk mamahami lebih seputar teknologi .Net.
Pada saat acara berlangsung, penonton yang umumnya masih awan dengan teknologi .Net mulai diperkenalkan secara umum mengenai .Net Framework. Satu-persatu bahasan yang diberikan kepada penonton sampai sesi yang terakhir. Penonton yang hadir sangat antusias untuk lebih mengetahui lebih dalam mengenai .Net Framework. Diselingi dengan quiz dan tanya jawab, acara yang dimulai pada pukul 08.00 pagi itu semakin ramai diminati oleh penonton yang hadir pada saat itu.
Pada saat acara berakhir, setiap penonton yang hadir mendapatkan bingkisan berupa tas dengan bordir tulisan Microsoft.Net yang diberikan secara cuma-cuma. Acara ini akan terus dilaksanakan mengingat panitia .Net sendiri memiliki jadwal sendiri untuk lebih mengenalkan .Net Framework kepada seluruh developer yang berada di Indonesia.

