Semakin pesatnya persaingan dalam bisnis warnet dalam usahanya untuk menjaring konsumen sebanyak-banyaknya. Tempat usaha ini sangat berjasa dalam mengenalkan internet ke seluruh tanah air. Namun sayang, kini warnet banyak yang gulung tikar karena persaingan serta tak adanya inovasi dalam mengembangkan usahanya. Pengusaha warnet memang harus memikirkan inovasi atau fasilitas tambahan kalau mau bisnisnya tetap berjalan. Internet sudah menjadi sebuah kebutuhan yang utama bagi para konsumen dalam mencari kepuasan akan informasi. Dan sebagai akibat dari maraknya persaingan dalam bidang teknologi internet menciptakan suatu terobosan teknologi dalam bentuk yang tidak umum.
Ada berbagai macam jaringan akses intenet, terdiri dari jaringan kabel (wireline) dan nirkabel (wireless). Contoh jaringan kabel diantaranya kabel tembaga, kabel koaksial, atau serat optik, sedangkan jaringan nirkabel, misalnya menggunakan microwave(wireless) pada frekuensi 2,4 GHz yang banyak dipakai oleh warnet.
Frekuensi 2,4 GHz ini bersama frekuensi 5,8 GHz dan 24 GHz sebenarnya termasuk dalam band ISM untuk keperluan instrumentasi, ilmiah, dan kesehatan. Meskipun penggunaan frekuensi ISM ini untuk keperluan komersial masih menjadi perdebatan, kalangan warnet maupun sektor usaha lainnya lebih menyukai jenis akses nirkabel ini. Selain harga perangkatnya semakin murah, mereka merasa mandiri dan terbebas sama sekali dari operator telekomunikasi untuk membangun jaringan broadband. Tetapi, konsekuensinya bisa diduga, frekuensi 2,4 GHz menjadi crowded atau penuh sesak dan saling berinterferensi, sehingga koneksi yang diterimapun menjadi kurang optimal.
Pelaksanaannya yaitu dengan membuat beberapa titik akses (hotspot) di lokasi yang diinginkan dan strategis, sehingga pengguna akses internet dapat dengan mudah menggunakan koneksi internet. Selain biaya yang murah dan nyaman, pengguna internet tidak perlu mencari saluran telepon untuk dial up ke internet.
Teknologi ini di awali dari kampus ITB di Bandung, yang pada saat itu dimotori oleh Dr. Onno W. Purbo dengan tim CNRG-nya. Dengan hanya merakit PC sederhana dengan tambahan PCMCIA WaveLan dan Ethernet Card, serta antena luar sehingga dapat menjangkau sambungan jarak jauh. Satu standar dari IEEE, yaitu kumpulan para insinyur dari seluruh dunia (tepatnya dari Amerika) yang menelurkan standar 802.11 yaitu standar komunikasi jaringan dengan tanpa menggunakan kabel dan menggunakan frekuensi 2,4GHz. Pada saat itu, percobaan yang dilakukan dengan menggunakan card WaveLAN hanya dapat memindahkan data sebesar 2Mbps, sedang saat ini, standar yang banyak dipakai adalah 802.11B yang dapat memindahkan data sampai 11Mbps, dan tahun mendatang kemungkinan akan digantikan atau bergeser ke standar 802.11G yang dapat memindahkan data sampai 50Mbps.
Masalah yang timbul sekarang bagi para pengusaha warnet yaitu, anggaran dan daya beli yang masih tinggi sehingga menyebabkan para pengusaha IT benar-benar harus mengencangkan ikat pinggang, dan akhirnya menggunakan peralatan yang seirit mungkin. Saat ini yang terjadi adalah kebijakan pemerintah yang masih diperdebatkan oleh seluruh pihak. Aturan yang pasti akan frekuensi 2,4 GHz yang digunakan Amerika adalah frekuensi yang gratis untuk dipakai oleh berbagai kalangan. Sehingga para pengguna masih harus membayar fee atas frekuensi yang digunakan.
Semua kendala yang terjadi ini masih dibahas dengan cukup alot oleh para komunitas pengguna wireless yang tergabung dalam IndoWLI. Semoga saja peraturan yang keluar nantinya tidak akan mencekik leher para pengusaha warnet dalam mengembangkan bisnisnya menuju perekonomian yang lebih baik. Pada akhirnya, akan tercipta satu skema bisnis yang lebih terjamin untuk para pengusaha warnet yang menginginkan untuk lebih fokus terhadap bisnis yang telah dijalaninya ini.
DAFTAR PUSTAKA
http://www.bogor.net/inside.asp?edition=1&cat=40, 26 maret 2005, Teknologi Wireless, Bonet.
0 comments:
Post a Comment